sebuah konsep editorial Jurnal “transparansi”

 

pengawasan melekat, riwayatmu kini…

 

Pengawasan melekat atau lazim disebut waskat, ibarat naga besar nan perkasa yang hingga kini sulit dijumpai. Mengapa? Pada kenyataannya tidak hanya di lingkungan birokrasi pemerintahan, juga pada organisasi sederhana sekali pun, identifikasi dan implementasi makhluk perkasa ini, rentan dan kerap diabaikan.

Hal remeh seperti ketakpedulian, individualistis, kepentingan-kepentingan, pemahaman organisasi secara parsial, kurangnya keberanian, dan lain lain, dan sebagainya, mungkin mengawali kerusakan pengawasan, utamanya pengawasan melekat. Namun, disadari atau tidak, dampak ignorance terhadap pengawasan melekat ini, sangat masiv adanya, dalam pencapaian tujuan organisasi, kelangsungan hidup organisasi.

Pada edisi kali ini, transparansi mencoba mengorek sedikit mengenai pengawasan melekat yang “sejenak” terlewatkan dari ruang fikir kita dan mencoba menemukan benang-benang rajut pengawasan, khususnya pengawasan melekat dengan pilar-pilar manajemen lainnya.

Sejajar pentingnya, pengawasan dengan perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan dalam konsep manajemen, namun tetap saja -bukan mencoba untuk defensif- dirasakan kurang “keren” dan “prestige” untuk dilirik apalagi didalami bahkan digeluti. Terlebih lagi pengawasan melekat, yang notabene  k a s a t   m a t a.

Budaya ketimuranlah, yang kadang kala dimajukan sebagai alibi dalam menghindari “kaffah”nya pengawasan melekat sebagai garda depan pengawasan. Kiranya, sudah saatnya -meminjam semboyan aa gym-, mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, pengawasan melekat harus ditingkatkan, dilakukan, sebagai kewajiban atas hak yang selama ini kita terima.

Apapun pendapat kita tentang pengawasan melekat sebelumnya, siapapun kita dan dimanapun kita berada, diharapkan terbitan transparansi kali ini, dapat menjadi inspirasi, pemicu dan penambah semangat serta keberanian bagi kita semua, untuk dapat memberikan sedikit sentuhan “kalbu”, minimal sebagai pengingat pada diri kita masing-masing, akan kewajiban yang melekat pada diri tiap-tiap kita.

 

hiks…

ga kepake

2 Responses to “sebuah konsep editorial Jurnal “transparansi””

  1. mustaneer Says:

    jangan sedih “oom” masih ada yang mau baca kok😉

    –bagus–

  2. wah, sayang jg ya ga jd d pake…
    tp dr diskusi draft editorial ini, aku jd tau pengertian waskat scr lengkap…ya wlo pun ngakunya di copy-paste aja 😉

    mengutip closingan-nya …moga aja bagi yg baca, tulisan ini dpt sbg sebagai pengingat pada diri kita masing-masing, akan kewajiban yang melekat pada diri tiap-tiap kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: