mind games

Posted in ...? on 12 May 2010 by abrehta

kala ramadhan kan tiba…

Posted in filosofi & religi on 17 August 2009 by abrehta

saatnya tiba harapkan maaf,

pada

1.   Sang Pencipta Cinta

2.  Sang jiwa, raga dan nafs yang ku bawa

3.  Para Sahabat, Taulan dan setiap jiwa yang terpaut Qadha…

hina ku tak terkira

bahkan tiada sanggup berkaca muka

semoga …

semoga terbuka …

semoga terbuka asa sahaya …

pada ampunan Sang Rahman dan semesta jiwa

semoga… ramadhan didepan

: loncatan semua kita

hunjukkan kebaikan

hapuskan, maafkan semua kealfaan

hidupkan kearifan, tumbuhkan persaudaraan

el bardan @ “ramadhan-7” 2009

pewayangan…

Posted in filosofi & religi on 7 July 2009 by abrehta

Kamajaya dan Dewi Ratih

Batara Kamajaya adalah salah satu di antara banyak dewa dalam agama Hindu maupun dalam ceritera wayang purwa. Ia terkenal tampan (cakap), berbudi luhur, jujur, berhati lembut dan kasih sayang kepada isteri. Isterinya bernama Dewi Ratih tidak kalah terkenal karena cantiknya dan seluruh laku, watak dan budinya sama dengan suaminya. Pasangan suami isteri dewa itu amat rukun dan masing-masing selalu menjaga kesetiaannya lahir batin dan sehidup semati.

Dalam kehidupan khususnya masyarakat Jawa, kerukunan pasangan Batara Kamajaya dan Dewi Ratih merupakan idola. Setiap upacara pengantin Jawa, selalu diharapkan agar pasangan itu hidup rukun, damai dan saling setia seperti pasangan Kamajaya dan Dewi Ratih. Apabila di kemudian hari pengantin itu dikaruniai putera agar berwajah tampan seperti Batara Kamajaya dan apabila puteri agar berwajah cantik seperti Dewi Ratih, sama halnya seperti orang Islam mengharapkan berputera tampan seperti Nabi Yusuf dan berputeri cantik seperti Zulaiha.

Salah satu karya sastra lama yang menceriterakan kisah cinta Batara Kamajaya dan Dewi Ratih ialah buku Smaradahana. Penulis buku Smaradahana adalah Empu Dharmaja yang hidup pada jaman kerajaan Kediri. Dalam buku itu dikisahkan terbakarnya Batara Kamajaya (smara = asmara; dahana = api). Penyebab terbakarnya Batara Kamajaya adalah Dewa Siwa (Batara Guru).

Ada pendapat, bahwa isi buku Smaradahana merupakan gambar kisah cinta putera Kerajaan Daha (sebelum bernama Kediri) dengan puteri Kerajaan jenggala. Putera Kerajaan Daha bernama Hinu Kertapati dan puteri Kerajaan Jenggala bernama Candra Kairana. Masyarakat Kerajaan Daha pada waktu itu percaya bahwa Hinu Kertapati adalah penjelmaan (titisan) Bhatara Kamajaya, sedang Candra Kairana penjelmaan Dewi Ratih. Maka nama buku Smaradahana merupakan sindiran “Kisah cinta di Kerajaan Daha”.

Banyak ahli sastra Belanda yang melakukan penelitian buku Smaradahana itu dan dimuat pada Bibliothica Javanica dalam bahasa Belanda disimpan di Perpustakaan Nasional. Buku Smaradahana yang asli ditulis dengan tulisan dan bahasa Jawa Kuno dalam bentuk tembang (puisi). Prof. Dr. R.M.Ng. Porbatjaraka telah melakukan ulasan cukup baik yang dimuat dalam bukunya Kapustakaan Djawi, dengan tulisan latin bahasa Jawa halus diterbitkan oleh Penerbit Djambatan, untuk cetakan pertama tahun 1952. Ringkasan isi buku Smaradahana sebagai berikut:

Pada suatu musyawarah para Dewa diketahui, bahwa Suralaya (Kahyangan) akan diserbu oleh bala tentara raksasa. Serangan itu akan dipimpin oleh Raja Nilarudraka. Semua dewa merasa tidak mampu menghadapi kesaktian Raja Nilarudraka. Seluruh dewa merasa panik bagaimana cara mengatasi bahaya itu. Kebetulan pada waktu itu Dewa Siwa atau Batara Guru (Raja pra Dewa) baru bertapa. Kemudian para dewa mengadakan musyawarah. Keputusan musyawarah menunjuk Batara Kamajaya untuk membangunkan Batara Guru dari tapanya. Berangkatlah Batara Kamajaya ke pertapaan Batara Guru.

Sesampai di pertapaan, Batara Kamajaya tidak berani mendekat. Batara Guru yang sedang bersamadi. Dicarilah akal untuk membangungkan Batara Guru dari tapa. Kemudian Batara Kamajaya melepaskan panah bunga berkali-kali tetapi tidak membawa hasil. Panah bunga yaitu kekuatan tenaga dalam (batin) dari seseorang ditujukan kepada orang lain agar tercium harumnya suatu bunga. Batara Kamajaya tidak putus asa. Kemudian dilepaskan panah “panca wisaya” ditujukan kepada Batara Guru (panca = lima; wisaya = rindu). “Panca Wisaya” itu berupa rindu pada suara merdu, rindu pada rasa enak, rindu pada belaian kasih sayang dan rindu pada bau yang harum. Seketika itu Batara Guru timbul rasa rindu kepada dewi uma permaisurinya. Setelah bangun dari tapanya, ternyata yang ditatap didepannya adalah Batara Kamajaya. Timbul marahnya yang tak terhingga. Batara Kamajaya dipandang memakai mata ketiga yang berada di dahinya. Pandangan itu memancarkan api yang menyala-nyala. Maka terbakarlah Batara Kamajaya dan mati seketika itu. Kemudian Batara Guru kembali ke Kahyangan.

Dewi Ratih sangat berduka cita mendengar berita suaminya mati terbakar. Ia bermaksud “mati obong” (membakar diri) bersama suaminya sebagai rasa cinta kasih. Kemudian Dewi Ratih menyusul ke tempat suaminya mati terbakar. Sesampainya Dewi Ratih di tempat suaminya terbakar, maka atas kehendak Batara Guru api menyala kembali lebih besar. Lambaian nyapa api itu tampak bagaikan lambaian tangan Batara Kamajaya memanggil Dewi Ratih agar mendekatnya. Maka Dewi Ratih tanpa ragu sedikitpun lalu terjun ke dalam nyala api. Demikianlah Dewi Ratih telah menyatu dengan suaminya.

Mengetahui kejadian itu seluruh dewa berduka cita. Mereka sadar bahwa kematian Batara Kamajaya karena keputusan sidang para dewa untuk mengatasi bahaya yang mengancam Kahyangan. Oleh karena itu para Dewa berusaha memohonkan ampun atas kesalahan yang diperbuat oleh Batara Kamajaya. Selain itu para dewa memohon agar Batara Guru berkenan menghidupkan lagi Batara Kamajaya dan Dewi Ratih. Akan tetapi Batara Guru tidak dapat mengabulkan permohonan itu, karena mempunyai pandangan yang lebih jauh. Batara Guru menghendaki keturuanan atau kelestarian kehidupan manusia di arcapada (dunia). Maka Batara Kamajaya diperintahkan agar tinggal pada setiap hati atau rasa orang laki-laki dan Dewi Ratih tinggal pada setiap hati atau rasa orang perempuan. Dengan demikian antara orang laki-laki dan perempuan selalu timbul rasa cinta kasih, sehingga kelangsungan hidup di dunia dapat dipertahankan.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1996. Khasanah Budaya Nusantara VII. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

malam itu

Posted in a shout out on 25 April 2009 by abrehta

ku… buka mata… 

dan ku lihat… dunia…

tlah ku… terima… 

anugerah… cintanya…


tak… pernah aku…

menyesali… yang ku punya…

tapi… ku sadari…

ada lubang… dalam hati…


ku… cari… 

sesuatu yang mampu mengisi lubang ini

ku… menanti… 

jawaban apa yang dikatakan oleh… hati

 


apakah itu kamu

apakah itu dia

selama ini

ku cari tanpa henti…


apakah itu cinta

apakah itu cita

yang mampu melengkapi

lubang di dalam hati

 

 

ku… mengira…

hanya dia… lah obatnya…

tapi… ku sadari…

bukan itu… yang kucari…


ku… teruskan…

perjalanan panjang yang begitu melelahkan

dan… ku yakin…

kau tak ingin… aku… berhenti

 

 

apakah itu kamu

apakah itu dia

selama ini 

ku cari tanpa henti…


apakah itu cinta

apakah itu cita

yang mampu melengkapi

lubang di dalam hati

 

 

apakah itu kamu

apakah itu dia

selama ini 

ku cari tanpa henti…


apakah itu cinta

apakah itu cita

yang kan mengisi

lubang di dalam hati

 

 

 

manstaps…

 

after wondering for about a couple days who’s song is this

akhirnya gue tau juga, klo nie tuh lagunya letto

tapi kok mellow banget, ga kayak lagu yang gue denger di metromini malem itu

 

cepat dan semi cadas

cukup ear-catchy suara serak sang pengamen…

melengkapi riuhnya suara-suara sumbang dalam otak gue kala itu

apalagi setelah letih dan lelah terakumulasi dalam diri

 

walau bukan penikmat lagu-lagu letto

kiranya kali ini harus diakui, enak juga kayaknya sih

tentunya dalam versi yang benar2 bisa gue nikmati…

 

artinya gue lebih suka versi sang pengamen

ketimbang versi aslinya yang kurang menarik he h e  h  e

 

ps.

no offense 4 letto and their pLETTOnic

 

 

Dumb as Einstein

Posted in ...? on 18 April 2009 by abrehta

A young boy enters a barber shop and the barber whispers to his customer, “This is the dumbest kid in the world. Watch while I prove it to you.” 

The barber puts a dollar bill in one hand and two quarters in the other, then calls the boy over and asks, “Which do you want, son?” The boy takes the quarters and leaves. 

“What did I tell you?” said the barber. “That kid never learns!” 

Later, when the customer leaves, he sees the same young boy coming out of the ice cream store. “Hey son, may I ask you a question? Why did you take the quarters instead of the dollar bill?” 

The boy licked his cone and replied, “Because the day I take the dollar, the game’s over!”

tips menghadapi bule

Posted in ...? on 18 April 2009 by abrehta

“Haven’t I seen you someplace before?”
“Yeah, that’s why I don’t go there anymore.” 

He: So what do you do for a living?
She: Female impersonator.

“Is this seat empty?”
“Yes, and this one will be too if you sit down.”

“So, wanna go back to my place?”
“Well, I don’t know. Will two people fit under a rock?”

“I’d like to call you. What’s your number?”
“It’s in the phone book.”
“But I don’t know your name.”
“That’s in the phone book too.”

“What sign were you born under?”
“No Parking.”

“I know how to please a woman.”
“Then please leave me alone.”

“Haven’t we met before?”
“Yes, I’m the receptionist at the V.D. Clinic.”

“I want to give myself to you.”
“Sorry, I don’t accept cheap gifts.”

“I can tell that you want me.”
“Ohhhh. You’re so right. I want you… to leave.”

“Hey, baby, What’s your sign?”
“Stop.”

“Hey cutie, how ’bout you and I hitting the hot spots?”
“Sorry, I don’t date outside my species.”

“May I see you pretty soon?”
“Why? Don’t you think I’m pretty now?”

“Your body is like a temple.”
“Sorry, there are no services today.”

“I’d go through anything for you.”
“Good! Let’s start with your bank account.”

“I would go to the end of the world for you.”
“Yes, but would you stay there?”

“Your place or mine?”
“Both. You go to yours and I’ll go to mine.”

After hearing a pickup line:
I like your approach, now let’s see your departure.

If you are looking at a girl and she says “What are you looking at?”
say “I thought you were good looking, but I was mistaken.”

He: Would you like to dance?
She: Not with you.
He: Oh, come on. Lower your standards a little, I just did.

He: Do you wanna dance?
She: Yeah but not with you!
He: You must have misunderstood me, I said you look fat in those pants!

Q: Does beauty run in your family?
A: It obviously doesn’t in yours!

Q: What’s your name sexy?
A: Taken!

Q: Do you believe in love at first sight or do you want me to walk by again?
A: Yeah, but this time don’t stop!

Q: I think you’re the best looking girl in here.
A: Really? Well, I’d better go find the best looking guy then, hadn’t I!

He: Your legs go clear up to your a**.
She: Most peoples’ do!

Q: Can I buy you a drink?
A: Go ahead, but only if you buy my boyfriend one too!

“You look like a dream.”
Response: “Go back to sleep.”

He: What`s it like being the most beautiful girl in the bar?
She: What`s it like being the biggest liar in the world?

“I can see forever in your eyes.”
Response: “But all I can see is never in yours.”

“I looked up beautiful in the thesaurus today and your name was included.”
Response: “Thanks! Hey, I saw your name next to jerk.”

how to get out of a traffic ticket

Posted in ...? on 18 April 2009 by abrehta

A police officer pulls a guy over for speeding and has the following exchange:

Officer: May I see your driver’s license? 
Driver: I don’t have one. I had it suspended when I got my 5th DUI. 

Officer: May I see the owner’s card for this vehicle? 
Driver: It’s not my car. I stole it. 

Officer: The car is stolen? 
Driver: That’s right. But come to think of it, I think I saw the owner’s card in the glove box when I was putting my gun in there. 

Officer: There’s a gun in the glove box? 
Driver: Yes sir. That’s where I put it after I shot and killed the woman who owns this car and stuffed her in the trunk.

Officer: There’s a BODY in the TRUNK?!?!? 
Driver: Yes, sir. 

Hearing this, the officer immediately called his captain. The car was quickly surrounded by police, and the captain approached the driver to handle the tense situation: 

Captain: Sir, can I see your license? 
Driver: Sure. Here it is. 

It was valid. 

Captain: Who’s car is this? 
Driver: It’s mine, officer. Here’s the owner’s card. 

The driver owned the car. 

Captain: Could you slowly open your glove box so I can see if there’s a gun in it? 
Driver: Yes, sir, but there’s no gun in it. 

Sure enough, there was nothing in the glove box. 

Captain: Would you mind opening your trunk? I was told you said there’s a body in it.
Driver: No problem. 

Trunk is opened; no body. 

Captain: I don’t understand it. The officer who stopped you said you told him you didn’t have a license, stole the car, had a gun in the glovebox, and that there was a dead body in the trunk. 

Driver: Yeah, I’ll bet the lying s.o.b. told you I was speeding, too!